Inilah Keistimewaan Puasa dibanding Ibadah Lain

By Admin Kabar Rekan 15 Apr 2021, 20:54:13 WIB Ramadhan
Inilah Keistimewaan Puasa dibanding Ibadah Lain

Keterangan Gambar : Ilustrasi Puasa Ramadhan (Foto: Istimewa)


KabarRekan – Puasa merupakan ibadah menahan diri dari haus dan lapar, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Selain itu puasa memliki nilai lebih dibandingkan dengan ibadah yang lainnya.

Salah satu hadits qudsi yang menjelaskan tentang istimewanya puasa sebagai berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَام، فَإنَّهُ لِي وَأنَا أجْزِي بِهِ

Baca Lainnya :

Artinya, "Semua amal perbuatan anak Adam -yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.”

Jika dikaji secara mendalam hadits tersebut seakan ingin menjelaskan kepada kita, bahwa puasa memiliki kedudukan yang amat mulia di sisi Allah SWT. Terbukti dengan adanya kata “untuk-Ku” menandakan bahwa Allah benar-benar memberikan keistimewaan yang tersembunyi dalam puasa ini.

Dan perlu ada kata yang perlu kita garis bawahi pada hadits ini, yakni pada kata “karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”.

Bukankah Allah akan membalas semua kebaikan maupun ibadah ?, kemudian apa yang melatarbelakangi hadits ini ?. Mengapa seakan mengesampingkan nilai ibadah yang lain.

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan hadits tersebut. Mengapa puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah swt dibanding amal ibadah lainnya? Berikut beberapa pendapat di antaranya.

Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak bisa terjerumus dalam riya (pamer). Hal ini sesuai sabda Rasulullah saw,

 ليس في الصيام رياء

Artinya, “Pada puasa tidak ada sifat riya (pamer).”

Siapa yang mampu mendeskripsikan atau menjelaskan bahwa dirinya sedang berpuasa ?, hanya dengan bibir yang terlihat kering, atau dengan memperlihatkan seolah badannya terasa lemas ?. tentu hal tersebut tidak dapat dibuktikan secara fisik.

Kedua, puasa dapat melumpuhkan setan. Saat sedang berpusa manusia menahan lapar dan dahaga, tidak ada kesempatan bagi manusia untuk sibuk melayani syahwatnya. Dalam fikirannya hanya bagaimana cara agar untuk menjaga anggota tubuhnya untuk tidak beruar maksiat sedikitpun.

Rasulullah pernah bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ ، فَضَيِّقُوا مَجَارِيَهُ بِالْجُوعِ

Artinnya, “Sesungguhnya setan itu menyusup dalam aliran darah anak Adam, maka persempitlah jalan masuknya dengan lapar (puasa).”

Ketiga, pahala puasa lebih besar dibanding ibadah lainnya. Menurut Al-Qurtubi, setiap amal ibadah sudah ditentukan besar pahala yang diperoleh, dari mulai dilipatkan 10 kali, 700 kali, dan sampai yang Allah kehendaki.

Lain halnya dengan puasa, pahalanya tidak memiliki ketentuan khusus, hanya Allah yang tahu. Hal ini senada dengan hadis berikut,

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Artinya, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Keempat, pahala melihat Allah swt. Dalam kitab Durrah an-Nashihin (hal. 13), Syekh Utsman Syakir dengan mengutip pernyataan Abul Hasan menjelaskan, bahwa semua amal ibadah akan mendapatkan balasan berupa surga. Berbeda dengan puasa, pahalanya adalah bersua langsung dengan Allah swt di akhirat nanti, tanpa ada penghalang apapun. Dalam klasifikasi level pahala, melihat Allah swt di akhirat merupakan kenikmatan yang paling tinggi, lebih nikmat dari mendapat surga seisinya.

Pewarta: Rivani Noer Maulidi





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment