Pelatihan

Bedah Buku Karangan Gusdur, IPNU Banyuwangi Siap Lawan Radikalisme

Jumat, 09 Apr 2021, 20:56:48
Bedah Buku Karangan Gusdur, IPNU Banyuwangi Siap Lawan Radikalisme

Keterangan Gambar : IPNU Banyuwangi Gelar Bedah Buku Gusdur (Foto: Rivani Noer Maulidi)


KabarRekan - Belum padamnya kasus terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme di Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia, termasuk pelajar dalam menangkal ideologi yang terbukti dapat merusak tatanan bangsa ini.

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Banyuwangi, menggelar bedah buku karangan KH Abdur Rahman Wahid, dengan judul Islamku, Islam anda, Islam kita. Kamis, (8/4/2021).

Direktur Lembaga Student Crisis Center (SCC) PC IPNU Banyuwangi, Mahasin Haikal mengatakan bahwa munculnya hal-hal tersebut ditengarai karena disalahartikannya doktrin-doktrin dalam Islam oleh beberapa kalangan, seperti konsep jihad dan sistem kenegaraan. 

Baca Lainnya :

Menurutnya, sebagian kelompok memahami terorisme sebagai jalan berjihad untuk mewujudkan sistem kekhilafan Islam.

"Dengan dalih merubah sistem negara Indonesia sehingga beberapa kelompok ini menganggap tindakan terorisme sebagai wujud jihad fii sabilillah," Ungkap Haikal sapaan akrabnya.

Sulung salah satu peserta diskusi dari asal Desa Boyolangu, Kecamatan Giri membeberkan data bahwa serangkaian tindakan kekerasan dan terorisme yang terjadi di Indonesia sejak Peristiwa Bom Bali tahun 2002, sampai tindak perusakan geraja di Sleman 2018, 7 pelaku diantaranya adalah orang Banyuwangi.

"Hal ini sangat urgent mengingat peristiwa terorisme ditahun-tahun belakangan, 7 pelaku perusakan gereja orang Banyuwangi," Kata Sulung.

Sungguh fakta yang mengejutkan melihat banyuwangi yang disangka aman ternyata bisa saja menimbulkan sebuah efek domino melihat rangkaian peristiwa terebut.

Sementara itu wakil ketua bidang organisasi Imam Mutaji juga mengungkapkan, pihaknya berharap dengan adanya advokasi kepada pelajar tentang hal ini dapat menambah wawasan mereka, tentang gejala dan indikator timbulnya radikalisme. 

"Yang pasti gerakan mereka bisa dibilang invisble movement namun hal itu bisa diraba dengan tindakan preventif," Kata Taji.

Ciri dari mereka, lanjut Taji tidak hanya tentang tampilan fisiknya yang terlalu berkiblat pada bangsa Arab, namun dari segi sikap dan perkataannya bisa dipastikan sudah ada bibit radikalisme.

Selain itu Rio selaku Peserta dskusi dari Kecamatan Songgon juga mengungkapkan dengan adanya wawasan seperti ini bisa menambah langkah preventif sejak dini untuk mengadvokasi pelajar lainnya tentang bahaya pelajar terpapar gerakan kekerasan dan terorisme.

“Dalam silaturahmi ini kita buktikan bahwa Islam yang moderat, Islam yang tidak terkait dengan ajaran radikalisme,” tandasnya.

Pewarta : Rivani Noer Maulidi

Editor : Riswan Efendi